BUAH KEYAKINAN

2015/4/2 / Yant Umar Ismail / BUAH KEYAKINAN / Indonesia 印尼  / 無

Judul : BUAH IMPIAN
Oleh : Yant Umar Ismail

Bermimpilah seakan – akan aku akan hidup selamanya dan hiduplah seakan – akan aku akan mati hari ini.Masa depan yang cerah adalah hak aku, karena aku yakin akan keindahan mimpiku dengan imajinasi aku lukiskan masa depanku bukan dengan sejarah masa lalu.Hidup tanpa imajinasi seperti burung tanpa sayap.Menggapai mimpi tak semudah aku menapaki tangga ada kalanya aku terjatuh mengalami kegagalan.Namun, kegagalan bukanlah berarti aku jatuh dari tangga melainkan aku sedang menapaki tangga yang sedang menurun ke bawah.Mimpi pasti akan tercapai jika tak berputus asa untuk kembali menapaki tangga secara bertahap.Keadaan tidak pernah menciptakan problem tetapi tindakkan kita terhadap keadaan yg menciptakannya.


Selasa , 17 oktober 2006
  Tepatnya hari selasa awal permulaanku menginjakkan kaki ke negri Formosa(Taichung).Meski tak ada pengalaman bekerja dengan bermodalkan niat,semangat,keyakinan,harapan,kepercayaan dan keberanian yang memampukkan aku menghilangkan rasa takut.Dengan adat istiadat dan bahasa yang berbeda mengharuskan aku untuk bisa beradaptasi dengan memerlukan proses dan waktu(masa) yang ku sebut dengan pengorbanan.Sebelumnya ada 3 pembantu yang bekerja disini. Salah satunya adalah anak  berwarga Negara Indonesia yang melarikan diri.Sedangkan 2 dari yang lainnya adalah berasal darinegara fhilipin.Berita itu aku dapat saat 3 hari setelah aku berada di sini.Saat itu aku sedang menunggu mobil sampah dan bertemulah dengan seorang anak indo yang telah bekerja disini selama 2 tahun.Dia banyak bercerita dan sesaat rasa khawatir ku menjelma danrasa penasaran juga yang membuat aku bertanya – tanya hingga bisanya tak ada satu pembantupun yang betah / kerasan tinggal disini.Dalam 3 hari ini aku belum melihat gelagat ama(majikan) yang aneh,masih terlihat biasa – biasa saja.Meski ada larangan untuk memegang Hp tapi tak apa – apa karena dengan diberi izin boleh melaksanakan ibadah kewajiban dan di berikan fasilitas kamar tidur tersendiri bagi aku itu sudah sangatlah bersyukur.

‘’Tok . . . tok . . . tok . . .’’ Pintu kamar ku yang slalu terbuka terus di ketuk – ketuk isyarat menyuruh aku bangun.Sesosok laki – laki tua sedang berdiri di depan pintu kamarku.Aku papah akong menuju ruang makan,ku dudukkan dan kunyalakan tv tanpa suara. Kusodorkan segelas susu hangat dan beberapa potong biskuit.
‘’plak . . . . . plak . . . . .’’Tangannya memukul meja.
Bergegas aku menghampirinya.Dia menoleh lalu menggeserkan piring yang berisikan beberapa potongan  biskuit itu.
‘’Wo yau che si fan.’’(Aku mau makan bubur).Ucapnya sambil tangan sebelah kanannya masih tetap di pukul – pukulkan keatas meja.Menderita penyakit pikun di tengah malam hari terbangun dia kira pagi bolong.
‘’Siencai she pan ye pu she cau shang.’’( Sekarang adalah tengah malam bukan pagi).Ku beri tahu namun hasilnya nihil.Sepertinya susah juga ngomong dengan orang yang tuli dan pikun.Sejenak aku berpikir mencari cara agar dia mau memakan biskuit dan segelas susu itu.Biar perutnya merasa kenyang sehingga cepat pula aku kembali menidurkannya.Tangannya masih belum juga berhenti di pukulkan sedang matanya tertuju pada tv.Saat aku melihat jendela di samping rak tv,maka ku coba membukanya.Meski dia tuli dan pikun namun mata penglihatannya sangat bagus.

‘’Krek. . . . . . . . . . .’’ Ku buka jendela.Terlihat jelas gelap gulita keadaan di luar sana.Dengan isyarat gerakan tangan ku coba mengalihkan pandangan mata akong yang sedang tertuju melihat tv.Dia berdiri lalu melangkah dengan pelan – pelan menghampiri aku.Melihat keadaan di luar sana begitu gelap dan semilir angin yang agak sedikit dingin segera dia mencoba untuk kembali menutup jendela itu.Dengan isyarat gerakan tanganku, aku suruh dia kembali duduk .Langsung ku tutup jendela dan dia pun duduk kembali.Sepertinya dia mengerti kalau sekarang adalah tengah malam.Kembali ku sodorkan segelas susu yang hampir dingin dan biskuit itu.Akhirnya dia pun menyantapnya.Kurebahkan tubuhku di atas tangga ,sesaat mata ku terpejam menahan rasa ngantuk.Kurang lebih 1 jam akumenunggunya dengan duduk di atas lantai tangga kembali aku mengajaknya untuk tidur kembali.Ku papah kembali akong menuju kamarnya.Di setiap tengah malam – malamnya kala rasa lapar bertamu akong pasti bangun untuk mengganjal perutnya.Jarang sekali dia berbicara dengan kepikunannya mengharuskan aku untuk sepintar mungkinmencari solusi agar membuat aku mudah dalam memberi pelayanannya.

‘’Ni tauti you mei you . . . . . . . . . . . . ?’’(Kamu sebenarnya ada tidak . . . . . . . . . . . . ?)Tanya Ama dengan nada suara rendahnya.
‘’Cente, Wo mei you.’’(Sungguh, Saya tidak ada)Jawab ku dengan jujur.
‘’Ni . . . . . . . . . . . . . .’’ (Kamu . . . . . . . . . . . .)Mendengar jawaban ku yang tak membuatnya puas dan menganggap aku seorang pembohong keluarlah perangai buruknya yang membuat seketika sekujur tubuhku lemas,jantungku seakan copot yang seakan –akan dia mau melahapku hidup - hidup.Hanya seminggu rasa nyaman yang aku rasakan mulailah sedikit demi sedikit masalah itu datang.Tak banyak kata yang ku ucap hanya diam dan menangis,percuma aku membela diri walaupun aku tak melakukannya perkataan dan linangan air mata pun tak berguna.Bisa saja pelakunya pembantu yang sebelumnya dan aku yang kena getahnya.Bukan pertama kalinya tuduhan terlontar kepadaku.Dalam hati aku hanya mampu berdo’a semoga Tuhan memberikan kelembutan pada hatinya karena bagi Tuhan tiada kesulitan sesuatu apapun di dunia ini.
‘’Ya Allah,berikanlah hamba berupa hati yang tenang,pikiran yang jernih,kuatkanlah hamba dengan selalu bersabar dan jadikanlah hamba orang yang selalu pandai dalam bersyukur’’.Seru hatiku kepada –NYA.
dengan selalu berfikir positif meski jujur rasa sakit ada,kobaran api yang membara ku bakar menjadikan semangat untuk meneruskan perjalanan ini.Meski permukaan bumi di penuhi dengan penderitaan tapi aku tak pernah lupa dunia juga telah di penuhi dengan solusi. Dan tempat yang tepat untuk mengubah duniaku adalah hatiku(heart),pikiranku(head)dan tindakanku(hands).Ibarat aku adalah sebatang pohon,ingin menjadi pohon yang kokoh tidak cukuplah bisa tumbuh seketika,tapi batang pohon itu menguat seiring dengan kekuatannya menghadapi terpaan angin.Setiap insan pastilah tertimpa penyakit,kesakitan,kepayahan,kegundahan bahkan sampai kesedihan yang merisaukan.Namun Allah pasti akan menggantikannya.Aku pasrah,sabar,ikhlas aku yakin ini ujian semata yang berasal dari sisi Allah SWT.Dengan banyak berdo’a dan merealisasikannya dengan usaha(melakukan,menjalankan) yakin semua ini bisa tergantikan.Siang malam berdo’a tanpa merealisasikannya dengan berusaha tak mungkin akan mengubah sesuatuapapun.Inilah yang ku sebut dengan pendidikan kehidupan yang mana menguji terlebih dahulu baru mengajarkanku dengan pelajaran,berbeda dengan pendidikan formal yang memberikan pelajaran terlebih dahulu baru di tes/diuji.Ujian yang di gunakan untuk memupuk kesabaran,ikhlas,kenyakinan,kemauan,rasa optimis,pengertian hingga menciptakan ketenangan jiwa.Mendapatkan pencapaian yang berbuahkan kesuksesan tidaklah mudah dan tak pernah luput dari kegagalan,nestapa,yang sering di iringi dengan rasa berputus asa.Ketika sudah meragukan kemampuan sudah pasti dunia nyata akan melahapnya.Ada resiko yang tidak bisa di hindari jika melangkah,tapi akan beresiko lagi kalau tidak melangkah ke manapun.

  Dengan tudingan yang telah terkumpul akhirnya agency dan agency penerjemah pun menemui aku.Aku hanya berkata jujur dan siap untuk menerima segala resikonya.Aku pasrah,ikhlas dan ku serahkan semua itu kepada Tuhan,meskipun aku meminta yang terbaik jika Tuhan berkehendak lain,memberikan jalan yang berhaluan dengan apa yang aku harapkan aku rela segalanya aku kembalikan kepada –NYA.Tuhan tak pernah tidur,Dia Maha Melihat dari setiap apa – apa yang dikerjakan makhluknya.Tak ada satu tempatpun untuk bersembunyi dari – NYA.Meski aku berkata jujur namun harus menerima resiko yang tak seharusnya,aku rela jika itu adalah jalan terbaik yang telah Tuhan berikan.Akhirnya agency memberikan aku kesempatan agar bisa bekerja dengan baik,jujur dan bertanggung jawab.

kerap Ama berkicau membuat daun telingaku panas kiranya tak perlu aku melayani kicauannya,tak akan menyelesaikan masalah lebih baik diam dan setidaknya bisa lebih cepat menghentikan kicauannya.Bergegas aku keluar melalui pintu dapur,aku buka kran air untuk membasuh anggota badanku(wudhu)dengan begini bisa membuat hati dan daun telingaku dingin.Biar dia menganggap aku lemah,tak ada nyali,tak bermanfaat hari – hari ku hanya di isi dengan pertengkaran.Sekeras – kerasnya batu lambat laun pun akan berlubang walaupun cuma dengan setetes demi setetes air.Begitu juga dengan hatinya suatu saat nanti hatinya akan bersimpati mengasihiku.Tak perlu juga aku menghinakannya karena aku dan dia sama – sama makhluk ciptaan Tuhan.Menghinanya sama dengan menghina ciptaan – NYA dan yang menciptakannya(Tuhan).Yang ku butuhkan adalah kegigihan untuk bisa merebut hatinya,mengejar cintanya dengan memberikan pelayanan yang sebaik – baiknya,bertanggung jawab,memberi kasih sayang sampai suatu saat dia benar – benar bisa memberi rasa percaya.Tak apa aku sering di bentak,dimarahi bahkan masih belum diakui.Sedangkan tragedy di alam raya ini yang paling mengenaskan bukanlah ketika orang binasa,melainkan ketika orang berhenti untuk mencintai sesuatu.Selama kepercayaan ,kemampuan,keinginan,dorongan tetap ada dalam hatiku, suatu saat kesuksesan,kemenangan akan aku raih dan dia akan menerima,mengakui dan melihat kasih sayang tulus yang aku berikan.

  Pada bulan kelimanya,Ama pun kembali memanggil agency. Aduannya tak menumbuhkan duri pada hatiku,justru membuat aku ingin tertawa dan menggelengkan kepala.
‘’Mbak,bukannya saya tidak bisa mencuci piring,tapi saya bingung. masa setiap bulannya cara nyuci piringnya terus berubah.emang orang Taiwan seperti itu yach, Mbak?’’Tanya aku dengan heran.
‘’Nggak,mungkin itu cara dia tersendiri,yang penting kamu turuti aja apa yang dia perintahkan.Bersih gak bersih menurut kita lakukan aja.Majikan itu ibaratnya Raja(penguasa)atau seorang pembeli yang harus di layani.’’Ungkap agency penerjemah sambil tersenyum setelah mendengarkan ceritaku.
‘’Yach,Mbak makasih.’’Sambil ku anggukkan kepala membalasnya.
Menurut aku cara mencuci piring seperti itu kurang bersih apalagi tidak disterilkan,tak apalah yang penting alat makan pribadiku, aku cuci dengan cara aku sendiri dan di strerilkan dengan merendamnya menggunakan air panas.Rendah hati,mengalah,memasang sikap positif memang tidak menyelesaikan masalah tapi dengan sikap positif setidaknya aku mampu mengontrol tindakan yang aku butuhkan dan bisa mengubah tekanan negatif menjadi dorongan positif.Tak ada guna aku menghitung hari – hariku dengan menunggu masa panen yang bakal terjadi,tapi aku hitung hari – hariku dengan benih tindakan yang aku taburkan.

Jum’at, 17 Agustus 2007
  8 bulan sudah berlalu,pengaduan kepada agency tak pernah dilakukannya lagi.Meski sikapnya masih tetap sama tapi aku sudah terbiasa dan menerimanya.Tak seluruh kepribadiannya buruk aku masih merasakan ada sisi kebaikannya pula.Semua manusia pasti ada kekurangan dan kelebihannya sama halnya dengan diriku sendiri.Tak perlu juga aku menjadikan semua ini sebagai beban lebih baik ku buang jauh – jauh agar pundakku tak terasa berat.Masuk lewat kuping kanan keluarkan lewat kuping kiri. Andaikan kicauannya tak bermanfaat ,sekiranya bermanfaat aku ambil sebagai ilmu tambahan.Sikap adalah pembeda yang kecil bagi seseorang,tapi justru kecil itulah yang menciptakan perbedaan yang besar.Perbedaan kecilnya sama – sama memiliki sikap dan perbedaan besarnya adalah sikap itu positif atau negatif.

Ku raih buku berbahasa mandarin yang pernah Ama berikan kepadaku untuk dipelajari agar lancar dalam berkomunikasinya.Lembar perlembar aku buka namun bukannya aku sedang mempelajarinya melainkan aku sedang mencari goresan tinta yang telah di tinggalkan oleh pembantu yang melarikan diri itu.Kembali aku membaca ulangnya setelah selesai ku baca,akupun menggoreskan tinta di bawah tulisannya. Aku membalasnya seakan sedang berbicara dengannya.’’Mbak,aku masih bertahan dan masih ada di rumah ini,tak ada keberanianku untuk kabur dari rumah ini dan melakukan hal yang sama denganmu.Lebih baik aku memiliki keberanian untuk menghilangkan rasa takut hingga aku menguasai rasa takut itu.Karena setiap orang mempunyai pikiran yang berbeda,meski udara yang di hirup sama,dunia yang di injak juga sama kadang terasa neraka dan syurga.Menjadikannya sahabat bagi aku itu lebih baik.Terima kasih juga dengan memberi tahu aku meski ajakanmu adalah suatu hal yang negatif,tapi telah ku jadikan sebagai dorongan yang bersifat positif.’’Kembali ku menutup buku itu dan ku rebahkan tubuhku di atas ranjang.

  ‘’Siau Ro, Wo cu meng le.Ni yau hau – hau cauku akong.’’(Siau Ro,aku pergi.kamu harus jaga akong baik – baik).Ama berpamitan dengan ku.
‘’Hau te.’’(baik) Balasku sembari mengantarkannya keluar membukakan pintu gerbang dan kembali aku menutupnya.Terlihat dari kejauhan anak laki – lakinya sedang berdiri menunggunya karena jalan depan rumah ini terlalu kecil hingga mengharuskan memarkir mobil di ujung gang jalan.

Sekitar jam 10.00 malam bel pintupun berbunyi.Bergegas ku keluar dan membukakan pintu gerbang.
‘’Ama ne?.’’(Neneknya)Kucari sesosok yang tak ku temui dengan sedikit mengerutkan alis mataku.
‘’Ama mei you hui cia,tha chu yi yuan.’’(Nenek tidak ada pulang ke rumah,dia di rawat di rumah sakit)Jawab anak laki- lakinya yang mana waktu pagi membawa Ama pergi bersamanya.
‘’Seme?’’.(Apa)Aku kaget mendengarnya.Bukankah tadi pagi saat pergi Ama baik – baik saja, apa dia kecapean hingga harus di rawat?(pikir dalam hatiku).
‘’Tha tietau le.’(Dia jatuh)Tegas anaknya menjawabku.

Seminggu sudah Ama dirawat dan aku tidak tahu bagaimana kondisinya yang ku dengar kaki lutut sebelah kanannya telah dioperasi.
Kurang lebih jam 08.00 malam Amapun kembali pulang kerumah,kaget aku melihatnya.Dia hanya mampu terbaring lemas di atas ranjang dengan kaki yang terbungkus gif yang begitu cukup panjang.Akupun menangis dan berlari memeluknya.
‘’Wo mei she.’’ (Aku tidak apa – apa)sambil tangannya menepak – nepakkan punggungku Ama menghiburku.

  2 bulan sudah ku merawatnya dalam keadaan terbaring di atas ranjang, sama sekali dia belum turun dari ranjang, kakinya masih terbungkuskan gif.Yang ku dengar 3 bulan kemudian gif itu baru bisa di buka dan sekitar kurang lebih 6 bulan barulah bisa belajar berjalan dengan menggunakkan tongkat berkaki 4.Kewalahan aku menjaga Ama dan Akong,belum dengan memasak dan membersihkan rumah 2 lantai yang cukup besar,tentu juga tidur malamku semakin berkurang.Tapi tak apa dengan melihat kegigihan aku bekerja,besar pula harapanku untuk bisa mengambil hati Ama.Ini bagiku merupakan jalan peluang besar yang tak boleh aku sia – siakan.Bukankah orang yang optimis itumencari peluang dari kesulitan,bukannya seperti orang pesimis yang melihat kesulitan dari peluang. Kegigihan adalah saudara kembar kesuksesan,kegigihan merupakan kualitas personal sementara kesuksesan adalah persoalan waktu.

Jum’at,19 Oktober 2007
  Dari ke 4 anak Ama yang bertempat tinggal di daerah yang berbeda – beda. Dengan melihat kondisi kedua orang tuanya yang memerlukan perhatian dan perawatan yang khusus. Akhirnya mereka menyepakati untuk mengajak kedua orang tuanya pindah rumah.Anak perempuan yang sekaligus anak pertamanya akhirnya membawa kami hijrah ke Tainan.Dengan profesi semasa mudanya menjadi seorang suster tentu menjadi sangat memudahkan bagiku untuk merawat kedua orang tuanya sehingga banyak ilmu yang aku dapatkan bagaimana cara yang benar dan baik dalam merawat pasien.Semangat ,kenyakinan, kemauan,sifat optimis aku pupuk dalam – dalam.Dengan segala dan sekuat kemampuan yang aku miliki semangat bekerjaku semakin membara dengan asa dan harapan yang bergelora.Mengharap mereka tidak mengingat seberapa lamanya aku menyelesaikan suatu pekerjaan melainkan hasil dari suatu pekerjaannya.Memang tidak semua yang aku hadapi bisa di ubah,namun tidak ada yang dapat di ubah sebelum aku hadapi.Kondisi Akongpun lambat laun semakin buruk dengan faktor usia yang sudah terbilang tua,syaraf otaknya semakin rusak.Disetiap tengah malam kala dia terbangun suka berteriak – teriak.Seluruh penghuni seisi rumah tak ada yang dia kenali.Kata –kata kasar sering keluar,bahkan rambut ku kerap kali dia jadikan sasaran.Pendirian Ama dan anaknya(majikan baruku)yang selalu bertentangan sering menjadikan berselisih paham.Dengan memilih dan mematuhi perintah majikan kekesalan Ama terhadap aku semakin bertambah.Dengan berjalannya waktu dan sesalu memberikannya kasih sayang pelan – pelan Ama pun mengalah.Waktu adalah pedang jika aku tidak bisa menggunakannya maka aku akan terbunuh oleh waktu.Dan aku ingin menjadi orang yang menciptakan lingkungan bukan menjadi makhluk ciptaan lingkungan.Meskipun sifat buruk Ama terkadang masih kerap muncul saat amarahmenghampirinya namun  dengandi jadikan sebagai sahabat bukan musuh bagi hatiku,aku masih tetap merasa nyaman.Hingga saat ini aku masih berada di sini semua telah aku raih cinta kasih dari semua keluarga Ama.Mereka telah benar – benar menganggap aku seperti keluarganya sendiri.Terima kasih Ya Allah ,yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam segala urusanku,hingga saat ini Engkau selalu menjaga hatiku,menjaga keyakinanku di saat aku berada di bawah tangga yang paling bawah sekalipun Engkau masih menghidupkan keyakinan dalam hatiku hingga kakiku melangkah kembali menapaki tangga secara bertahap sampai pada titik puncaknya.Jadikanlah aku orang yang selalu bersabar dalam segala hal apapun namun bukan berarti aku menjadi orang yang bersabar untuk berjauhan dengan – MU.Puji syukur atas segala nikmat yang telah di berikan kepadaku terutama nikmat iman,islam ,kesehatan.

1 komentar:

  1. Kesabaran memang akan selalu berbuah manis, tinggal menunggu waktunya kapan manis itu akan kita teguk. nice story.

    (莉莉)

    BalasHapus

Please enter your email address :